Persepsi Keadilan dan Keterasingan (Alienasi) pada Pemuda Asli Papua Akibat Kehilangan Ruang Ekonomi Informal
Main Article Content
Abstract
Pembangunan urban yang pesat di Kota Sorong telah menciptakan kompetisi ruang yang ketat dan berpotensi meminggirkan kelompok rentan, terutama pemuda asli Papua yang secara historis bergantung pada ruang ekonomi informal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana persepsi keadilan dan keterasingan (alienasi) terbentuk pada pemuda asli Papua (OAP) di Kota Sorong sebagai akibat dari hilangnya ruang ekonomi informal. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif dengan pemuda OAP yang terdampak, dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan munculnya persepsi ketidakadilan ganda: ketidakadilan distributif (kehilangan aset) dan ketidakadilan prosedural (pengabaian suara). Kondisi ini memicu perasaan alienasi yang termanifestasi dalam pengalaman ketidakberdayaan (powerlessness) dan keterisolasian sosial (social isolation), serta ketidakbermaknaan (meaninglessness) dan keterasingan diri (self-estrangement) ketika mereka terpaksa beralih ke pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan intrinsik. Kesimpulannya, penelitian ini menemukan bahwa persepsi ketidakadilan bertindak sebagai mediator krusial yang menghubungkan perubahan struktural dengan dampak psikologis individu, menyoroti pentingnya pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.